Madura merupakan bagian integral Jawa Timur yang berbentuk kepulauan yang terletak pada 113 ° dan 114° bujur timur serta 7° lintang selatan. Luas daratan pulau Madura kurang lebih 5025.3  kilometer persegi yang terbagi atas beberapa pulau. Secara administratif Madura terbagi menjadi 4 kabupaten. Berurutan dari barat ke timur Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Akses menuju pulau Madura dapat ditempuh melalui penyeberangan Tanjung Perak (Surabaya)  – Kamal Madura dan melalui akses Jembatan Suramadu dan tidak jarang yang Masuk KeMadura melalui pelabuhan Jangkar Situbondo.

Penduduk Madurapada 2015 sebanyak 3.808.533 jiwa yang tersebar di empat kabupaten, Bangkalan sebanyak 954 305 jiwa, Sampang 936 801jiwa, Pamekasan 845 314 jiwa dan sumenep 1 072 113 jiwa. Disamping itu, orang Madurabanyaktinggal di bagiantimurJawaTimurbiasadisebutwilayahTapalKuda, dariPasuruansampaiutaraBanyuwangi.

Meskipun pulau Madura hanya berpenduduk tidak lebih dari 4 juta jiwa, suku Madura secara keseluruhan berjumlah kurang lebih 20 juta jiwa yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia. Suku Madura dikenal suka merantau, pekerja keras istilah lokalnya Abantal omba’ asapo angin, alako berre’ apello koneng (berbantalkan ombak, berselimut angin, bekerja berat hingga mengeluarkan keringat kuning/keruh). Istilah lokal ini seringkali dinilai menjadi spirit masyarakat Madura dalam menjalani kehidupan khususnya berkaitan dengan etos kerja dan perantauan. Nilai lokalitas ini juga dirangkai dengan anjuran-anjuran sistem religi yang dianut mayoritas suku Madura yaitu Islam. dimana mereka diajarkan pemahaman bahwa Nabi Muhammad SAW mendapatkan kesuksesannya sebagai pemimpin ketika berhijrah ke Madinah. Oleh karenanya masyarakat Madura memahami bahwa seseorang harus berhijrah / merantau keluar daerah untuk mendapatkan kesuksesan.

Menurut perspektif lain, banyaknya Suku Madura yang merantau disebabkan oleh kondisi sumberdaya alam yang kurang produktif, tandus, gersang sehingga kurang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomis. Kondisi Madura yang terisolir menyebabkan tingginya angka urbanisasi bahkan migrasi yang dilakukan masyarakat Madura. Hal ini mengakibatkan kurangnya tenaga kerja terlebih bagi mereka yang telah sukses enggan kembali ke Madura karena kurangnya prospek kemajuan di Madura (Subaharianto,2004). Meskipun Madura pada awalnya adalah satu kesatuan dengan Pulau Jawa,   Dan terdapat kesamaan struktur dan kebudayaan Madura dengan jawa, Ironisnya  Madura terisolir dari keramaian industrialisasi karena letaknya yang dikelilingi lautan (de Jonge, 1989).

 

Beberapa Kajian pasca realisasi jembatan Suramadu menunjukkan bahwa hingga saat ini Suramadu secara signifikan belum berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Madura. Hotijah (2010) dalam kajiannya  perkembangan industri dan pendapatan daerah kabupaten Bangkalan sebelum dan sesudah Pembangunan Jembatan Suramadu menyimpulkan bahwa kecenderungan peningkatan Industri kecil dengan indikator jumlah industri, jumlah tenaga kerja serta niai produksi terjadi sejak sebelum pembangunan Jembatan Suramadu. hal sebaliknya justeru terjadi pada tahun pengoperasian Jembatan Suramadu, sektor industri kecil mengalami penurunan sebesar 50%, baik jumlah perusahaan, tenaga kerja maupun nilai produksinya.  Pada tahun – tahun berikutnya mengalami penigkatan rata-rata 3 – 4 %. Adapun pendapatan daerah kabupaten bangkalan tidak terdapat perubahan apapun. PDRB Bangkalan telah mengalami peningkatan sejak sebelum pengoperasian jembatan Suramadu (2002 – 2008) dengan rata-rata 5% tiap tahun, tidak jauh berbeda dengan peningkatan pasca pengoperasian jembatan Suramadu.

Dari sisi pembangunan Manusia, Pulau Madura Masih relatif tertinggal dari daerah lain di Jawa Timur, pada 2013 BPS Jawa timur Merilis Indeks pembangunan Manusia kabupaten Bangkalan : 66.19, Sampang 62.39, Pamekasan 67.17, dan Sumenep 66.89 masih jauh dari indeks pembangunan rata-rata Jawa timur sebesar 73.54. hal ini menunjukkan bahwa  kualitas kehidupan baik, kesehatan, melek huruf, ekonomi dan pendidikan masih dibawah rata-rata daerah di jawa timur. Oleh karenanya Madura secara umum membutuhkan perhatian lebih dalam pembangunannya. Dalam pemahaman analisis pembangunan, Madura membutuhkan percepatan pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya dari daerah lain di Jawa timur.

Megasari (2014) Mengkaji Pengaruh Jembatan Suramadu Terhadap Perkembangan Wilayah Antara Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sumenep dengan menggunakan tolak ukur kepadatan penduduk, fasilitas,pendidikan, kesehatan, ekonomi  menyimpulkan bahwa pembangunan jembatan Suramadu belum memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan Wilayah Bangkalan maupun Sumenep.

Haryanto (2012) menegaskan bahwa industrialisasi di Madura pasca Suramadu meniscayakan  modal pendidikan agar masyarakat mampu bersaing dan berperan dalam pembangunan Madura. Sementara itu fakta menunjukkan bahwa HDI daerah Madura masih relatif tertinggal dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Apabila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka masyarakat Madura hanya akan menjadi pemirsa pasif, tuan rumah yang hanya menyaksikan kemajuan dan pembangunan di Madura bukan membangun Madura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website