Perempuan Madura dibalik pertanian tebu

Upaya pembangunan pertanian di Madura tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan sebagai istri Petani, Secara spesifik istri petani tebu di Madura. Sesuai dengan kebiasaan dan adat istiadat, pada umumnya pengerjaan lahan pertanian dikerjkan bersama-sama antara suamidan  istri. Lazimnya suami mengerjakan pekerjaan yang relatif berat seperti mencangkul dan membajak, sedangkan perempuan / istri mengerjakan pekerjaan yang lebih ringan seperti menanam, menyiangi, pemupukan dan memanen.

Pada umumnya jam kerja / waktu disawah sangat lama, sehingga terdapat beberapa saat untuk beristirahat. Biasanya untuk mengisi waktu istirahat tersebut para perempuan mengisinya dengan kegiatan menganyam tikar, kerai, memintal benang dan mencari rumput untuk hewan ternaknya (Koesno, 1976 dalam Rifai, 2007). Perempuan Madura dikenal memiliki etos kerja yang tinggi, baik yang berpendidikan tinggi maupuntidak, kaya maupun miskin mereka dikenal sebagai pekerja keras baik untuk pekerjaan domestik rumah tangga maupun pekerjaan produktif.

Pada umumnya perempuan dari golongan status sosial rendah bekerja untuk mendapatkan penghasilan dan bertahan hidup. Meskipun demikian perempuan Madura tidak melupakan kewajiban yang telah dikonstruksi sekian lama yaitu rumah tangga, mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebelum pekerjaan nafkah ataupun disela – sela pekerjaan nafkah. Adapun perempuan dari kalangan sosial tinggi, berpendidikan tinggi, bekerja adalah pengabdian kepada masyarakat (Sukesi DKK, 2012)

Etos kerja perempuan Madura didorong oleh pemahaman bahwa bekerja adalah ibadah, menciptakan kemandirian. Bagi perempuan Madura, bekerja menambah penghasilan untuk keluarga, bekerja membantu suami di ladang, sawah adalah ibadah. Membantu suami adalah pekerjaan mulia dimana dalam pemahaman kultural istri harus mengabdi kepada suami, keputusan dalam rumah tangga juga apa kata suami (reng bine’ noro’ bunthe’). Spirit intrinsik yang mendasari etos kerja perempuan Madura menurut Sukesi (2015) sangat memungkinkan untuk diberdayakan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan keluarganya.

Meskipun perempuan Madura mempunyai etos kerja yang tinggi, namun pengambilan keputusan tetap berada di tangan suami. Widodo 2009, mengkaji peran perempuan dalam usaha tani tembakau menyimpulkan bahwa peran perempuan sangat terbatas, tidak memliki akses kredit, tidak memiliki akses informasi pertanian, dan tidak mempunyai hak untuk mengambil keputusan dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena Faktor kultural masih sangat kental mendominasi praktek kehidupan masyarakat. Interpretasi yang salah atas ajaran agama semakin memperjelas budaya patriarkhi di Madura. Pemahaman kultural bahwa istri hanya tahu dan mengerti urusan dapur saja masih melekat dimasyarakat, ironisnya hal ini diamini oleh para istri. Sedangkan peran perempuan dominan hanya pada pengelolaan keuangan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website