Pembangunan Pertanian Madura

Pertanian merupakan sektor dominan mata pencaharian mayoritas masyarakat Madura. Pola pertanian di Madura mengikuti pergantian musim. Pada umumnya jenis tanaman pertanian disesuaikan dengan musim yang berlangsung. Pada musim hujan masyarakat menanam padi yang kemudian diseling dengan tanaman tegalan ketika musim kemarau. Sementara itu, sebagian masyarakat Madura juga menanam buah-buahan seperti mangga, srikaya, duwet, jambu air, jambu monyet pada umumnya hasilnya dijual dipasar atau dipinggir jalan, akan tetapi pengusahaannya masih relatif terbatas.

Berdasarkan karakteristik tanah dan Musim di Madura, lahan pertanian Masyarakat Madura pada umumnya dikenal dengan sawah tadah hujan, sawah irigasi, dan ladang atau tegalan. Sawah tadah hujan merupakan lahan pertanian yang pengairan utamanya dari air hujan, tidak ada aliran sungai. Lahan pertanian jenis ini pada musim kemarau sebagian besar ditanami tembakauMadura. Sawah irigasi merupakan sawah yang terdapat sumber mata air sehingga pengairannya tidak mengandalkan dari air hujan. Adapun tegalan merupakan lahan kering yang tidak diairi dan terbatas dalam penggunaaannya untuk pertanian. Seiring dengan pertumbuhan masyarakat Madura, sejak akhir abad 19 banyak perbukitan dan hutan yang dikonversi menjadi lahan tegalan untuk ditanami tanaman sperti jagus, kacang kacangan, dan palawija (Rifai, 2007)

Lahan tegalan merupakan jenis lahan pertanian paling banyak di Madura, Ekologi tegal merupakan lahan pertanian Khas Madura yang oleh Kuntowijoyo pada 1990 digambarkan seluas 67,4% tegalan tetap , tegalan tidak tetap mencapai 2,9%, lahan sawah tadah hujan mencapai 26,8%, sawah irigasi hanya seluas 3,1%. Ekologi Tegal di Madura ditandai dengan rendahnya curah hujan, endapan napal dan batu kapur serta tidak adanya sungai untuk mengairi. Pada musim hujan rata-rata hujan turun 16 hari/bulan dengan rata-rata curuh hujan 200 – 300 mm (Subaharianto, 2004 dalam Hefni 2012).

Ekologi lahan tegalan mayoritas di Madura yang ditandai dengan formasi batu kapur, ketiadaan sungai menempatkan kearifan lokal (local knowledge) masyarakat setempat sebagai upaya maksimalisasi pemanfaatan lahan pertanian tersebut. kondisi alam yang kurang menguntungkan bagi petani memaksa masyarakat untuk melakukan serangkaian uji coba tanaman yang adaptif pada kondisi ekologi setempat. Upaya diversifikasi tanaman pertanian sesuai dengan kondisi tanah, cuaca/musim merupakan salah satu local knowledge masyarakat Madura yang telah lama dilakukan sejak sebelum mereka mengenal pembangunan pertanian modern (Hefni, 2012)

Sesuai dengan ekologi lahan pertanian Madura dan proses dialektika yang panjang antara masyarakat, lahan pertanian dan musim/cuaca di Madura tanaman utama yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan banyak ditanam mayoritas masyarakat Madura adalah Tembakau. Tembakau dikenal sebagai tanaman emas hijau karena nilai ekonominya yang tinggi. Namun demikian, tingginya nilai ekonomi tanaman tembakau ternyata tidak berkorelasi positif dengan kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan faktor yang bersifat given (seperti kondisi tanah/lahan, curah hujan/cuaca) dan faktor artifisial yang sengaja dikondisikan pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan lebih seperti sistem tataniaga, dan panjangnya mata rantai perdagangan tembakau (handaka 2010). Menyikapi kondisi demikian, pemerintah daerah khususnya Kabupaten Pamekasan melalui DISBUNHUT menawarkan pilihan tanaman tebu lahan kering sebagai tanaman pengganti tembakau yang dinilai tidak lagi menguntungkan.

Upaya peralihan dari tembakau ke tanaman tebu menghadapi beberapa persoalan, disamping persoalan teknis penanaman hingga Panen, juga fakta bahwa hasil tebu lahan kering/tegalan tidak sebanyak tebu lahan sawah irigasi dimana hasil tebu lahan kering / tegalan hanya sekitar 77% dari hasil tebu sawah irigasi. Meskipun demikian, hasil kajian PTPN bekerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan menunjukkan terdapat kecocokan dengan karakter tanah di kecamatan Pegantenan. Diharapkan petani mendapatkan solusi alternatif dalam menghadapi penurunan produktifiitas tembakau melalui tanaman tebu lahan kering ini (Nashar, 2015)

Nashar (2015) menyimpulkan bahwa  Kelayakan usaha tani tanaman tebu lahan kering di kabupatan Pamekasan layak untuk dibudidayakan sebagai tanaman alternatif tembakau. Kelayakan tersebut menurutnya ditinjau dari dua aspek, pertama aspek stakeholder, mencakup pemerintah, investor dan masyarakat setidaknya telah bersinergi dalam program ini. Kedua aspek kelayakan usaha. Aspek ini mencakup pemasaran, teknis, managemen dan ekonomi sosial. Persoalan teknis hingga pemasaran telah dihandle oleh PTPN dengan baik.

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting untuk dikembangkan terutama untuk negara sedang berkembang seperti indonesia. Urgensitas pembangunan sektor pertanian dapat kita lihat pada peranannya dalam menyediakan input bagi sektor industri. Bagaimana Industri Rokok bergantung pada produk petani tembakau, industri Gula ditentukan oleh hasil pertanian Tebu dan lainnya. Menurut Kuznet (1964) dan Todaro (2000) bahwa sektor pertanian mempunyai kontribusi pada pembangunan ekonomi suatu negara meliputi: penyerap tenaga kerja, kontribusi terhadap pendapatan, penyediaan pangan dan bahan baku, serta sebagai sumber devisa (Harjanto, 2011)

Pembangunan sektor pertanian tidak sekedar berbasis developmentalism, dimana target utamanya adalah sekedar pertumbuhan tanpa mempertimbangkan unsur kemandirian. Kiranya dari sekian banyak model, strategi pembangunan pertanian yang relevan dan sesuai dengan kondisi di indonesia adalah strategi pemberdayaan masyarakat. Konsep pemberdayaan lahir sebagai antitesis terhadap model pembangunan dan model industralisasi yang kurang memihak pada rakyat mayoritas (Harjanto, 2011). Pemberdayaan sebagai basis utama pembangunan masyarakat memiliki makna membangkitkan sumberdaya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan masyarakat guna meningkatkan kapasitas dalam peningkatan kesejahteraan di masa depan. (Prijono & pranarka (1996) dalam Supardjan dan Suyatna 2003).

Implementasi pemberdayaan harus melihat beberapa aspek, diantaranya pertama Pemanfaatan jaringan sosial aktual dalam masyarakat, kedua melihat tingkat kohesivitas masyarakat ketiga menentukan primum mobile dalam masyarakat yang akan menjadi pendorong terjadinya perubahan. Upaya ini dapat dicapai dengan pendekatan KAP (knowledge, Attitude, practice). Dengan pengetahuan yang memadai, sikap dan perilaku serta keterampilan yang baik, masyarakat petani akan meningkat kapasitasnya. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat petani ditentukan oleh peran stakeholder yang sinergis. Peran tersebut dapat digambarkan :

Aktor Peran dalam pemberdayaan Output peran Fasilitasi
Pemerintah Formulasi dan implementasi kebijakan, monitoring dan evaluasi mediasi Kebijakan (politik, umum, khusus/sektoral, penganggaran

Penerapan indikator keberhasilan dan penyelesaian sengketa

Dana, jaminan, alat, teknologi, jaringan, edukasi dan sistem manajemen informasi
Swasta Kontribusi pada formulasi, implementasi, monitoring dan evaluasi Konsultasi dan rekomendasi kebijakan, tindakan dan langkah, donatur, private investment dan maintenance Dana, alat, teknologi, tenaga ahli dan terampil
Masyarakat Partisipasi, implementasi, monitoring dan evaluasi Saran, input, kritik, rekomendasi, dukungan dan keberatan dalam formulasi kebijakan, policy action menghidupkan fungsi social control, partisipan dll Tenaga terdidik, tenaga terlatih, setengah terdidik dan setengah terlatih

Sulistiyani, 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website