Secara teoritis, perubahan sosial akan membawa perubahan-perubahan pada subsistem sosial secara interdependen. Perubahan secara terus menerus (oikumenogenesis) akan membawa perubahan pula pada tatanan masyarakat termasuk didalamnya institusi-institusi sosial, pola interaksi, yang akan menciptakan konvergensi pluralitas tatanan masyarakat (Salim, 2002: 151). Zanden (1998) merumuskan :

Fungsionalist take as their starting point the notion that society as a system , a combination of things or part that form a larger whole….one feature of a system is the interdependence of its part. Change in one institution has implications for other institutions and for the society as a whole (Zanden, 1998: 29)

Masyarakat bisa menyadari dan menduga  arah perubahan serta mengharapkan dampak positif dari proses tersebut. Akan tetapi proses yang terjadi justru berlawanan dengan dugaan dan harapan masyarakat sehingga hasilnya pun sama sekali berlawanan dengan yang diharapkan. Proses demikian oleh Merton dan Kendall disebut sebagai ”Proses Bumerang” (Sztomka, 2005: 18). Dalam perspektif inilah, dikawatirkan harapan masyarakat terhadap berkah realisasi Suramadu dan Industrialisasinya justru menjadi ”bumerang” yang mengancam eksistensi masyarakat lokal dengan segenap kearifan lokalnya.

Realisasi jambatan Suramadu juga akan berdampak demikian, akan menciptakan kompetisi pendidikan, kompetisi SDM dan menjadikan struktur masyarakat baru, yaitu masyarakat majemuk. Ketika masyarakat lokal tidak mampu beradaptasi dengan perubahan maka mereka akan termarginalkan.

Menurut Todaro (2003: 28) pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk berupaya sekeras mungkin – melalui serangkaian kombinasi proses sosial, ekonomi, dan institusional – demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik. Oleh karena itu pembangunan dalam perspektif ini membutuhkan setidaknya tiga tujuan. Pertama peningkatan ketersediaan dan distribusi barang-barang kebutuhan hidup. Kedua peningkatan standard hidup dan ketiga peningkatan jumlah pilihan-pilihan ekonomis bagi seluruh lapisan masyarakat.

Arif Budiman (1995) merumuskan keberhasilan pembangunan dapat diukur dengan lima indikator. Pertama keberhasilah pembangunan pada awalnya diukur dengan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat. Hal ini diukkur dengan produk nasional bruto (PNB) serta produk domestik Bruto (PDB). Kedua pembangunan berhasil apabila mampu menciptakan pemerataan. Ketiga kualitas hidup masyarakat meningkat. Peningkatan kwalitas hidup ini diukur dari physical quality of life index (PQLI) yang dilihat dari rata-rata harapan hidup bayi dalam setahun, rata-rata jumlah kematian bayi serta angka buta dan melek aksara. Keempat kerusakan lingkungan. Pembangunan haruslah sustainabel, berkelanjutan tidak merusak lingkungan hidup. Oleh karena itu, pembangunan membutuhkan pilihan tepat dalam penggunaan teknology. Kelima pembangunan harus menciptakan keadilan sosial. Bukan justeru memperlebar ketimpangan. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin ( Salim, 2002: 264-265)

Upaya pembangunan di Madura diawali dengan penyediaan sarana infrastruktur (Jembatan Suramadu) yang rencananya akan mendukung proses industrialisasi di madura. industrialsasi mensyaratkan adanya pembangunan sosial. Penjelasan situasional industrialisasi dalam sebuah wilayah pada umumnya digunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: pertama persentase dari tenaga kerja dalam sektor industri dan jasa dibandingkan dengan produksi primer. Kedua sektor manufaktur sebagai proporsi dari pendapatan nasional bruto (GNP). Industrialisasi berkaitan erat modernisasi, khususnya dalam proses urbanisasi, pengembangan sain dan teknologi serta modernisasi politik (political modernization). Masing-masing dapat dilihat sebagai (a) prasyarat industrialisasi (b) dampak langsung dari industrialisasi (c) syarat sekaligus dampak (jary&jary, 1991: 305).

Pendekatan pembangunan yang spatial menjadikan pembangunan mempunyai dampak yang justeru merugikan generasi berikutnya. Oleh karena itu muncul konsep dari kalangan environmental tentang pembangunan berkelanjutan (Sustainable development). Selain pencapaian tujuan pembangunan masa sekarang, pembangunan berkelanjutan menekankan kelangsungan resources yang berdayaguna bagi generasi/masa yang akan datang. Pembangunan ini meniscayakan keterkaitan antara aspek sosial, lingkungan dan lingkungan, ketiganya interdependen dengan proses pembangunan (Clayton & Bass (ed), 2002:12). Pembangunan berkelanjutan ini berkaitan erat dengan pemilihan teknologi. Selama ini aksioma teknologi sebagai determinisme pembangunan meniscayakan bahwa masalah yang timbul akibat dari teknologi pasti dapat diselesaikan dengan teknologi pula. Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Dickson mengandaikan hal tersebut sebagai Utopian technology, menurutnya diperlukan teknologi sepadan dengan kriteria:

  • Pengutamaan usaha swadaya
  • Sikap menghargai Disentralisasi.
  • Mengedepankan gotong royong untuk sesuatu yang tidak dapat dikerjakan seorang diri..
  • Kesadaran akan tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website